Sastra Sebagai Jembatan Komunikasi Generasi Mantul

Sastra Sebagai Jembatan Komunikasi Generasi Mantul

Virus pergaulan bebas nampaknya bukan hanya menjangkiti para muda-mudi dan para remaja, namun juga mulai menyisir para generasi alfa, yang seharusnya masih asik bermain dengan anak seusianya. Generasi yang kerap kali menamkan diri sebagai generasi mantul (mantap betul) ini sangat akrab dengan gaawai. Perkembangan IT diiringi dengan maraknya informasi yang masuk pada pelbagai aplikasi ponsel pintar memang tak dapat dibendung lagi. Terlebih sejak tahun 2016, Indonesia telah tergabung dalam Masyarakat Ekonomi Asean. Itu berarti bahwa membeludaknya informasi tak dapat dielakkan lagi. Masalah yang terjadi adalah kurangnya filter yang dimiliki oleh anak dalam menyerap informasi. Menangapi hal tersebut, komunikasi dalam keluarga tentu sangat diperlukan, khususnya komunikasi antara orang tua dan anak.

Masalah berikutnya adalah sudahkah komunikasi tersebut efektif? Atau justru sebaliknya? Si anak merasa digurui dan dimarahi sehingga merasa tertekan dan timbul dorongan dalam diri untuk berbuat yang tak sesuai dengan normanya. Pada dasarnya seorang anak tidak suka apabila diperlakukan seperti anak-anak, meskipun dalam kenyataannya usia mereka masih anak-anak. Larangan, hukuman, dan makian malah semakin memenjarakan mereka dalam belenggu rasa bersalah sehingga membuat mereka memiliki implus-implus yang dipendam untuk bebas. Ketika implus-implus tersebut terakumulasi, maka mereka akan mengekspresikannya melalui cara mereka sendiri yang tak bisa diduga oleh siapapun dan cenderung destruktif.  Oleh sebab itu, perlu sarana komunikasi yang lebih membumi ketika disampaikan pada anak, yaitu komunikasi melalui sastra.

Komunikasi Sastrawi

Fungsi sastra seperti halnya yang diungkapkan oleh Wellek dan Warren adalah mendidik dan menghibur (dulce et utile). Mendidik berarti bahwa melalui sastra, seseorang dapat menangkap berbagai pesan moral yang ingin disampaikan oleh penyampainya baik melalui media tulis ataupun lisan. Sedangkan fungsi menyenangkan berarti bahwa sastra mampu menghibur siapa saja yang mendengar atau membacanya. Guru Besar Sastra Indonesia dari Universitas Negeri Malang (UM) yaitu Prof. Abdus Syukur Ghazali mengatakan bahwa sastra mampu mengalihkan pembaca dari realita yang sedang dialami pembaca. Hal tersebut berarti bahwa ketika seseorang berhadapan dengan sastra, maka ia akan diajak untuk masuk ke dalam teks menikmati setting latar, tempat, waktu, kemudian merasakan diri seolah-olah menjadi atau sedang bersama tokoh utama, bahkan larut dalam alur cerita yang disajikan dalam teks  sastra. Pembaca, dalam hal ini penikmat sastra sejenak lupa akan realita yang dihadapinya dan ini sangat mengasyikkan sehingga tepat apabila dikatakan bahwa sastra itu menghibur.

Dosen sastra dari National Universitiy of Singapore (NUS), Dr. Azhar Ibrahim Alwee mengatakan bahwa sastra mampu mengintegrasikan logika, etika, dan estetika berbahasa anak. Logika dalam sastra membuat seseorang berikir kritis dan tanggap pada fenomena yang disajikan dalam karya. Etika merupakan elemen selanjutnya yang menggugah karsa atau kehendak untuk ikut merasakan, ikut trenyuh terhadap nilai-nilai moral yang diamanatkan. Sedangkan estetika menurut A.A. Teuw merupakan resepsi pembaca terkait dengan keindahan sastra yang telah dinikmatinya. Hal tersebut membuktikan bahwa sastra memang tepat sebagai sarana komunikasi pada anak.

Berkomunikasi lewat sastra pada anak dapat dilaksanakan menggunakan empat tahap yang berjalin berkelindan satu sama lain yaitu tahap (1) pengenalan, (2) pengarahan, (3) diskusi, dan (4) aksi. Tahap pengenalan berarti bahwa orang tua mengenalkan anak pada sastra melalui tuturan maupun tulisan yang mengandung nilai sastrawi seperti prosa dan puisi. Helvy Tiana Rosa, pemrakarsa Forum Lingkar Pena (FLP) Indonesia pernah mengatakan bahwa ia mendidik anaknya melalui sastra. Sentuhan sastra diberikan sejak anak tersebut membuka mata di pagi hari hingga menjelang tidur. Setiap pagi, Helvy membangunkan anaknya dengan kata-kata indah yang puitis sehingga anaknya menjadi lebih peka akan bahasa dan pesan yang disampaikan oleh ibunya.

Setelah anak dikenalkan pada sastra, langkah selanjutnya adalah pengarahan. Tahap pengarahan dapat dilakukan dengan cara mengajak anak ke toko buku atau perpustakaan yang memiliki banyak buku sastra. Di tempat tersebut, biarkan anak memilih ceritanya sendiri untuk dibawa pulang dan dibaca di rumah. Dalam hal ini, orang tua hanya mengarahakan dan menyeleksi toko buku atau perpustakaan yang tepat untuk dikunjungi anak.

Buku yang telah dipilih dalam tahap pengarahan, kemudian dibawa pulang untuk dibaca bersama dengan orang tua. Setelah dibaca, orang tua wajib mendiskusikan isi buku tersebut dengan anak. Meskipun terlihat sepele, namun hal ini penting. Kecenderungan yang terjadi adalah orang tua mengabaikan tahapan ini padahal pada tahap ini imajinasi anak benar-benar diasah. Tony Wagner dalam bukunya berjudul Global Achievment Gap mengatakan bahwa ada dua hal yang membuat negara utara lebih maju daripada negara selatan, yaitu kemampuan untuk berimajinasi dan berpikir kritis. Proses diskusi anak dan orang tua untuk mengevaluasi karya yang dibaca oleh anak sebenarnya mengakomodir dua kemampuan yang dicetuskan oleh Wagner tersebut. Anak diajak untuk mengimajinasikan seandainya dia berada sebagai tokoh utama, hal apa yang dilakukan atau tidak dilakukan. Anak juga diajak untuk berpikir kritis melihat fenomena fenomena apa saja yang terjadi dalam buku yang telah dibacanya. Proses ini juga bertujuan untuk mendekatkan hubungan antara orang tua dengan anak. Proses evaluasi tak harus formal seperti yang dilakukan di sekolah, namun bisa sambil minum teh atau makan biskuit bersama dengan suasana yang santai.

Tahap terakhir adalah tahap aksi. Meminjam istilah Dr. Haryatmoko, orang yang perlokusioner merupakan orang yang dipercaya. Orang yang perlokusioner berarti bahwa orang tersebut memiliki kesesuaian antara yang dikatakan dengan yang diperbuat. Tahap aksi mengajarkan anak untuk menjadi pribadi yang perlokusioner. Setelah anak diajak berdiskusi dan mengupas nilai-nilai moral yang ditemukan dalam cerita, maka anak diajak untuk mau berkomitmen melakukan segala hal yang harus dan tidak harus dilakukan. Tahap ini mengajarkan anak untuk disiplin, bertanggung jawab, sekaligus menjadi pribadi yang perlokusioner.

Penulis adalah Ardi Wina Saputra

Dosen Universitas Katolik Widya Mandala Madiun

Source: PBSI